GOWA || Sebuah inovasi berkelanjutan lahir dari kolaborasi antara Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Narkotika Kelas IIA Sungguminasa dan mahasiswa Departemen Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku, Program Studi Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin (Unhas).
Melalui program ramah lingkungan ini, limbah organik dapur berhasil diolah menjadi pakan ikan lele bernutrisi tinggi, yang tidak hanya menekan volume sampah, tetapi juga memperkuat ketahanan pangan secara mandiri di lingkungan lapas.
Limbah dapur seperti sisa sayuran dikombinasikan dengan dedak padi dan dedak jagung, lalu diolah melalui proses fermentasi sederhana hingga menghasilkan pakan alami yang kaya nutrisi.
Program ini menjadi langkah konkret dalam mengurangi potensi pencemaran lingkungan, sekaligus memberikan nilai tambah ekonomi bagi lapas serta warga binaan yang terlibat.
Lapas Narkotika Kelas IIA Sungguminasa
Kepala Lapas Narkotika Kelas IIA Sungguminasa mengungkapkan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen lembaga untuk menciptakan pemasyarakatan yang produktif, hijau, dan berdaya guna.
“Kami ingin membuktikan bahwa perubahan bisa dimulai dari hal sederhana. Dari sisa dapur, lahirlah manfaat besar bagi lingkungan dan kehidupan. Warga binaan belajar bahwa setiap limbah memiliki nilai, jika diolah dengan pengetahuan dan niat baik,” ujarnya penuh semangat.
Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa program ini tidak hanya bertujuan mengurangi limbah, tetapi juga mendidik warga binaan agar memiliki keterampilan baru di bidang pengolahan limbah dan budidaya ikan.
“Kami tidak hanya membina, tapi juga memberdayakan. Setiap kegiatan di lapas kami arahkan agar memberi dampak positif, baik bagi warga binaan maupun bagi lingkungan sekitar,” tambahnya.
Selain mengurangi limbah organik, kegiatan ini juga memperkuat sistem budidaya ikan lele yang telah dikembangkan di Lapas Narkotika Kelas IIA Sungguminasa.
Dengan pendekatan sirkular ekonomi, limbah dari dapur kembali dimanfaatkan untuk menunjang produksi pangan di dalam lapas, menciptakan siklus pengelolaan limbah yang produktif dan berkelanjutan — dari dapur ke kolam, dari sampah menjadi sumber pangan.
Universitas Hasanuddin
Sementara itu, perwakilan mahasiswa Universitas Hasanuddin yang terlibat menyampaikan apresiasi atas keterbukaan pihak lapas dalam mendukung kegiatan ini.
Mereka menilai, kolaborasi antara lembaga pemasyarakatan dan perguruan tinggi menjadi model nyata pembangunan berkelanjutan yang bisa direplikasi di berbagai daerah.
“Kami melihat antusiasme tinggi dari warga binaan. Ini bukan sekadar proyek, tapi wujud nyata dari edukasi lingkungan dan pemberdayaan manusia. Inovasi sederhana seperti ini memiliki dampak besar bagi keberlanjutan dan perubahan perilaku,” ungkap salah satu mahasiswa.
Melalui program ini, Lapas Narkotika Kelas IIA Sungguminasa menunjukkan komitmennya dalam mengintegrasikan nilai keberlanjutan, edukasi, dan pemberdayaan dalam setiap kegiatan pembinaan, sekaligus menjadi contoh nyata transformasi hijau di lingkungan pemasyarakatan.
